Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2009

Prinsipnya organisasi-organisasi revolusioner

Pada prinsipnya kita belum pernah, dan tidak dapat, menolak teror. Teror adalah suatu bentuk aksi militer yang bisa jadi cocok sekali, dan bahkan sangat dibutuhkan, pada suatu saat tertentu di dalam pertempuran, dalam keadaan tertentu pasukan tempur serta kondisi-kondisi tertentu. Namun titik pentingnya adalah bahwa saat ini teror sama sekali tidak sedang diusulkan sebagai suatu operasi tentara yang aktif di lapangan, yang erat kaitannya dengan keseluruhan sistim perjuangan, tapi sebagai bentuk independen dari serangan tersendiri yang tidak terkait dengan tentara manapun. Tanpa suatu badan sentral, dan selama organisasi-organisasi revolusioner lokal masih lemah, teror tidak bisa menjadi lebih dari itu. Makanya kita menyatakan secara tegas bahwa dalam situasi sekarang ini, alat perjuangan semacam itu tidak pada tempatnya dan tidak cocok: itu mengalihkan perhatian para pejuang yang paling aktif dari tugas-tugas mereka yang sebenarnya, yang dari sudut pandang perjuangan keseluruhan adalah paling penting; dan akan memporakporandakan bukan kekuatan pemerintah melainkan kekuatan revolusioner. Kita hanya perlu mengingat tentang kejadian-kejadian belakangan ini. Dengan mata kepala sendiri kita melihat massa buruh dan "rakyat kebanyakan" terdorong maju dalam kancah perjuangan, sementara kaum revolusioner kekurangan staf-staf pemimpin dan organisator. Dalam situasi demikian, bukankah kita menghadapi bahaya bahwa, bila kaum revolusioner yang paling berenerji malah beralih ke terorisme, bahwa satuan-satuan penyerang, tempat satu-satunya kemungkinan untuk bersandar, diperlemah sebagai akibatnya? Bukankah kita menanggung risiko memutuskan jalinan kontak antara organisasi revolusioner dengan massa yang tersebar luas, yang sedang mengalami ketidakpuasan, sedang menuntut, sudah siap untuk berjuang, tapi lemah karena mereka kini tercerai berai? Padahal kontak tersebut satu-satunya jaminan bagi keberhasilan kita. Kita sama sekali tidak mengingkari pentingnya aksi heroik individual, tapi adalah wajib kita untuk memberikan peringatan keras agar jangan tergila-gila pada teror, menentangnya agar jangan sampai hal itu dijadikan alat perjuangan utama dan mendasar –– yang sekarang justru begitu banyak orang cenderung melakukannya. Teror tidak pernah menjadi operasi reguler militer; paling-paling dapat dipakai sebagai satu dari berbagai metode yang dipergunakan dalam suatu serangan yang menentukan. Akan tetapi dapatkah kita, sekarang ini, mengusulkan ajakan untuk mengadakan serangan yang menentukan seperti itu? Rabocheye Dyelo, nampaknya, berpendapat demikian. Paling tidak ia menyerukan: "Bentuklah barisan penyerang!" Tapi sekali lagi, seruan ini lebih mencerminkan emosi daripada akal sehat. Badan utama kekuatan militer kita terdiri dari para sukarelawan dan pemberontak. Kita hanya memiliki sedikit unit-unit kecil pasukan tempur reguler, yang bahkan belum termobilisasi; tidak terjalin erat satu dengan lainnya, dan juga belum terlatih untuk membentuk barisan tentara macam apapun, apalagi membentuk jajaran tempur. Mengingat semua ini, haruslah jelas bagi siapapun yang mampu memahami kondisi-kondisi umum perjuangan kita, dan yang mengingat kondisi-kondisi tersebut pada setiap "pembelokan" dalam perkembangan kejadian historis, bahwa semboyan kita sekarang ini belum bisa "maju dan menyerang, "akan tetapi harus "mengepung benteng musuh."Dengan kata lain: tugas utama partai kita bukan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk menyerang sekarang juga, akan tetapi mengajak membangun sebuah organisasi revolusioner yang mampu menyatukan seluruh kekuatan dan mengarahkan pergerakan dalam praktek yang sebenarnya, bukan hanya sekedar nama. Yaitu, sebuah organisasi yang siap setiap saat untuk mendukung setiap protes dan kebangkitan, serta menggunakannya untuk membangun dan mengkonsolidasikan kekuatan tempur yang dibutuhkan bagi perjuangan yang menentukan.


Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian-kejadian bulan Februari dan Maret [6] begitu mengesankan, sehingga agak kecil kemungkinannya sebuah ketidaksetujuan yang bersifat prinsip dengan kesimpulan tersebut. Namun apa yang kita butuhkan sekarang bukanlah suatu solusi masalah prinsipil, melainkan solusi yang praktikal. Kita harus jelas bukan hanya akan sifat dasar organisasi yang dibutuhkan serta tujuan tepat organisasi itu, tetapi harus mengelaborasi sebuah perencanaan pasti bagi sebuah organisasi, sehingga pembentukan organisasi itu dapat dikerjakan dari segala aspek. Mengingat masalah ini sangat mendesak, maka kami, pada bagian kami, akan mengajukan pada kamerad sekalian suatu rencana garis besar, yang akan dikembangkan secara rinci dan sangat teliti dalam sebuah pamflet yang sekarang sedang disiapkan pencetakannya.[7]


Menurut kami, titik tolak kegiatan kita, langkah pertama menuju organisasi yang dicita-citakan, atau, bisa dikatakan hal ini merupakan jalur utama yang -bila diikuti-memungkinkan kita secara pasti untuk mengembangkan, memperdalam dan memperluas organisasi tersebut, ialah pendirian sebuah koran politik yang menjangkau seluruh Rusia. Apa yang sangat kita butuhkan adalah koran. Tanpa koran kita tak akan dapat secara sistimatis menjalankan propaganda dan agitasi secara menyeluruh, konsisten dalam prinsip, yang mereupakan tugas utama dan tetap kaum Sosial-Demokrat secara umum, dan juga merapakan tugas yang paling mendesak pada saat ini, ketika minat pada politik dan masalah-masalah sosialisme telah bangkit di tengah-tengah sebagian besar penduduk. Sebelumnya, tidak pernah ada kebutuhan yang begitu besar seperti sekarang ini untuk memperkuat agitasi yang disebarkan oleh aksi-aksi individual, selebaran lokal, pamflet-pamflet, dan sebagainya, dengan cara agitasi sistimatis dan luas melalui terbitan pers reguler. Bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan kalau dikatakan bahwa frekwensi dan keteraturan pencetakan suatu koran (serta distribusinya) dapat dijadikan sebuah kriteria yang tepat mengenai sebagus apa sektor yang paling utama dan esensial dari aktivitas-aktivitas militan kita ini dibangun. Lebih jauh lagi, koran kita haruslah koran yang dapat menjangkau seluruh Rusia. Jika kita gagal, dan selama kita gagal, menggabungkan usaha-usaha kita untuk mempengaruhi rakyat dan pemerintah dengan menggunakan kalimat-kalimat cetakan, maka hanya akan menjadi utopia semata untuk berpikir tentang mengkombinasikan cara-cara lain yang lebih kompleks, sulit, tetapi yang juga lebih meyakinkan guna meluaskan pengaruh. Secara ideologis, sebagaimana juga dalam praktek dan dalam pengertian-pengertian organisasi, pergerakan kita menderita kerugian besar disebabkan pergerakan kita ini berada dalam kondisi tercabik-cabik, juga disebabkan karena mayoritas luas –– bahkan hampir-hampir seluruhnya –– kaum Sosial-Demokrat terbenam pada kerja-kerja lokal, yang menyempitkan pandangan mereka, jangkauan aktivitas mereka, kesiapan dan kecakapan mereka dalam menangani kerahasiaan. Persisnya dalam keadaan terfragmentasi inilah kita harus melihat akar terdalam dari ketidakstabilan dan kebimbangan yang telah disebutkan tadi. Langkah pertama untuk mengatasi kelemahan ini, guna mentransformasikan pergerakan-pergerakan lokal menjadi satu di seluruh Rusia, haruslah berupa pendirian sebuah koran se-Rusia. Dan apa yang dibutuhkan adalah sebuah koran politik. Tanpa organ politik, suatu pergerakan yang pantas disebut pergerakan politik tidak mungkin di Eropa sekarang ini. Tanpa koran semacam itu kita tidak mungkin dapat memenuhi tugas kita –– tugas mengkonsentrasikan unsur-unsur ketidakpuasan dan protes politik, guna memperkokoh pergerakan revolusioner kaum proletar. Kita telah mengambil langkah pertama, kita telah membangkitkan suatu hasrat di dalam kelas buruh untuk melakukan pembongkaran "ekonomis", ialah tentang ikhwal pabrik; kini kita harus mengambil langkah berikutnya, yakni membangkitkan dalam setiap lapisan masyarakat yang melek politik sebuah hasrat untuk pembongkaran politis. Kita tidak boleh berkecil hati oleh adanya fakta bahwa saat ini suara-suara pengungkapan politis masih lemah, takut-takut, dan jarang terdengar. Hal ini bukan disebabkan kepatuhan sepenuhnya terhadap kelaliman polisi, melainkan karena orang-orang yang mampu dan siap mengadakan pengungkapan-pengungkapan politik tadi tidak memiliki mimbar untuk berbicara, tidak ada audiens yang haus dan bersemangat, mereka tidak melihat di manapun di antara massa kekuatan yang bisa menhantarkan keluhan mereka dalam menentang "kemahakuasaan" Pemerintah Rusia. Tapi sekarang semuanya sedang berubah dengan cepat. Ada kekuatan demikian – kaum proletar revolusioner yang sudah menunjukkan kesiapannya, tidak saja hanya untuk mendengarkan dan mendukung seruan demi perjuangan politik, akan tetapi juga bersedia ikut bertempur. Sekarang ini kita sudah mampu menyediakan sebuah mimbar buat mengekspos pemerintah Tsaris secara nasional, dan memang tugas kitalah untuk melakukannya. Mimbar tersebut haruslah koran Sosial-Demokrat. Kelas buruh Rusia, berbeda dari kelas dan strata lainnya dalam masyarakat Rusia, menonjolkan minat yang konstan serta luas dalam pengetahuan politik, dan menunjukkan secara luas dan terus menerus (tidak hanya dalam periode kerusuhan semata) kehausan atas literatur ilegal. Ketika minat massa semacam ini telah jelas, ketika pelatihan para pemimpin revolusioner yang berpengalaman telah dimulai, dan ketika konsentrasi kelas buruh membuat kelas itu penguasa yang sebenarnya di kampung-kampung buruh dan daerah-daerah perindustrian di kota-kota besar, maka bukan hal yang tidak mungkin untuk mendirikan sebuah koran politik. Melalui kaum proletar koran tersebut akan mencapai kaum borjuasi kecil perkotaan, pengrajin di pedesaan, dan kaum tani; dengan begitulah ia menjadi suatu koran politik milik rakyat.

03 Maret 2009

Perbandingan Persatuan Perjuangan


Perbandingan Persatuan Perjuangan (PP) Indonesia – Persatuan Perjuangan Papua

Untuk perjalanan persatuan perjuangan ini, saya mempunyai sedikit gambaran bagaimana kalau kita bekerja sama dengan organisasi-organisasi sosial yang ada di daerah, namun dibalik semua yang kita lakukan ada maksud dan tujuan tertentu yang kita perlu rahasiakan, maksud yang besar yang tidak boleh diketahui orang atau lembaga yang bekerja sama dengan kita.

Kekalahan dan kemunduran kita adalah pelobi atau diplomat-diplomat kita yang ditempatkan di luar negeri, hampir semuanya yang hanya berpikir tentang kepeentingan diri sendiri ketimbang berpikir untuk perjuangkan hak-hak dasar rakyat, hanya mencari nama dimata internasional (tidak 100% untuk kepentingan rakyat).

Mahasiswa merupakan tulang punggung dari suatu daerah dalam arti bahwa jika mahasiswa itu sendiri mau untuk adanya suatu perubahan maka pasti perubahan itu akan terjadi, namun yang saya bingungkan disini adalah mahasiswa asal Papua yang mana selalu hanya mau untuk berdiam diri ketimbang bergerak. Padahal jika kita berpikir kembali bahwa kita dari Papua dan hal ini terjadi disana maka sudah seharusnya mereka harus berjuang atau turut bercokol dalam Persatuan Perjuangan kita bersama. Karena jika hal ini terwujud maka kita semua juga yang akan menikmati.

Perkembangan Sosial

Masyarakat bukanlah suatu entitas yang abstrak, masyarakat adalah nama yang diciptakan untuk mengacu pada totalitas hubungan dimana manusia hidup. Hubungan sosial ini mengungkap cara manusia melakukan hal bersama, jenis antagonisme dan konflik yang terjadi diantara mereka, intuisi dan aturan perilaku yang dibuat demikian untuk mengatur interaksi antara mereka. Dengan demikian, dalam mempelajari masyarakat, kita mempelajari perubahan perilaku orang yang diperlukan. Dalam proses itu kita dapat mengetahui pola pikir atau tindakan yang berasal dari perubahan dalam diri masing-masing manusia.

Teori Marxisme tentang perubahan sosial, dikenal dengan konsepsi sejarah materialis atau materialisme historis. Pada konsep materialis historis ini ada hal yang perlu kita ketahui, juga tentang perkembangan sosial dan pula perkembangan diri individu. Proses dimana manusia memperoleh mata pencahariannya dari dunia luar (sandang, pangan, dan papan)
(99-100. Marxisme Dan Psikoanalisis, Reuben Osborn)

Ketika kita melihat dan membaca sepengal dari cerita diatas maka kita akan mendapatkan satu kata tentang, bagaimana membangun diri kita untuk berinteraksi dengan orang lain. Kita harus mampu untuk mengembangkan diri kita sendiri, seingga dapat bersaing dan mampu meraih point demi point kemenangan kita yang telah tertunda lama. Kita sebagai manusia dan juga makhluk sosial, namun disisi lain kita adalah individu juga. Semua itu tergantung dari diri kita masing-masing sekaranng mau berkembang atau tidak.

Saya mulai pesimis dengan melihat sikap beberapa teman Papua yang oportunis (tidak ambil pusing ) namun disi lain hanya mau memanfaatkan keringat orang lain dan tak mau untuk bergeraka dan mengembangkan dirinya, padahal jika dilihat, banyak hal yang dapat dilakukan atau dikerjakan guna dapat mencapai tujuan kita bersama.

Seperti yang dikatakan Karl Marx menggunakan logika atas teori materialisme itu sendiri, ia mendefinisikan negara sebagai "hasil pernyataan perjuangan kelas yang tidak dapat didamaikan"(The State Is The Product And The Manifestation Of The Irreconcilability Of Class Antagonism). Sementara Itu Engels Dalam Bukunya Yang Berjudul Der Uspung Der Familie, The Privatiegentums Und Des State (1984), menyebutkan bahwa; negara adalah hasil masyarakat pada suatu tingkat kemajuannya, negara adalah suatu pengakuan bahwa masyarakat ini sudah terlibat dengan pertentangan dengan dirinya sendiri sehingga tidak dapat diselesaikan lagi; sampai negara itu terbelah dua dalam pertentangan dendam kesumat tidak dapat disingkirkan lagi.

Menurut Karl Marx, negara tidak lebih hanya sebagai alat pemaksa yang pada saatnya akan hilang dengan sendirinya, seiring dengan berkembangnya masyarakat. Bahasa populer yang digunakan adalah " The State Is Nothing But A Machine For The Operation For One Class By Another". Negara adalah suatu mesin yang digunakan oleh kelas lain untuk menindas kelas lain. Sebagaimana diungkapkannya;
"As long as the ploretariat still needs the state, it need it not in the interest of freedom but for the purpose of croushing is antagonists; ang as soon at is becomes posible to speak of freedom, then the state, as such, ceases to exist". (selama kaum ploretar masih memakainya, negara mereka tidak mengekangnya untuk memperjuangkan kebebasan tetapi untuk menindas lawan-lawan, dan pada saat tercapainya maksud tertentu tadi maka kebebasan negara akan lenyap dengan sendirinya).

Prinsip Berbicara (Rencana Dan Strategi)

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kehilangan beberapa prinsip berbicara efektif, prinsip pertukaran interpersonal positif dan prinsip kehidupan yang memuasakan. Biasanya kita terjebak dalam dead line dan tekanan dalam mencari kehidupan, sehingga kita lupa bagaimana menjalankan kehidupan. Hal ini terjadi bukan karena anda kekurangan talenta, kurang mampu, dan kurang kreatif. Tetapi anda belum mengetahui bagaimana memulai, dan mengerti serta mempercayai kekuatan-kekuatan dasar diri anda dan alam semesta. Karena otak bagai bola lampu dan stop kontak, sehingga anda harus percaya pada kemampuan anda untuk menyalakan lampu anda sendiri, tidak peduli apa yang terjadi di sekeliling anda maupun apa yang terjadi pada diri anda.

Untuk membangun rumah impian anda (apa yang di inginkan), pertama-tama anda membutuhkan Rencana. Untuk memenangkan suatu kejuaraan, anda harus menjalankan Strategi. Sudah seharusnya yang ada pertama dalam benakmu adalah rencana dan strategi sebagai pikiran, konsep, atau visi tentang bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Beegitu anda secara sengaja berniat untuk menggunakan pengalaman kekalahan masa lalu sebagai motivasi untuk mengembangkan diri dan bukan sebagai alasan untuk membatasi, maka anda akan sampai pada kekuatan kreatif anda. Begitu anda berkonsentrasi terhadap posibilitas dan bukan probabilitas, maka anda akan menjernihkan visi dan anda akan dekat pada kesuksesan. Karena tidak ada orang lain yang mampu merintangi jalan anda selain pikiran dari diri anda sendiri.

Ketika anda bekerja dengan sebuah rencana, dan berusaha agar dapat melaksanakan rencana tersebut maka talenta anda akan naik kepuncaknya.

Ketika anda berpikir dalam beberapa level sekaligus, anda akan meningkatkan produktifitas anda, dan merasa lebih baik dengan diri anda. Anda akan memproduksi lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik, jika visi dan benak anda jernih.

(Kennet Wydro, Seni Berbicara; 2005, Cinta Pena, hal 97-99)

02 Maret 2009

Pembangunan Politik



Lanjutan; MATERI PEMAHAMAN POLITIK


A.Pembangunan Politik

dalam pembangunan politik, setidaknya ada 2 peristiwa besar yang mendorong munculnya studi pembangunan politik.

1.Lahirnya negara-negara baru dunia ke tiga pasca perang dunia ke II, terutama di Asia, Afrika, Amerika Selatan, yang tentu saja menjadi tantangan baru bagi ilmuan untuk melakukan kajian politik diwilayah itu, masalahnya mengkaji tentang perubahan pololitik atau penerapan sistem politik beserta infrastruktur yang menopangnya.
2.Berkembangnya studi area dan revolusi behavioralisme dalam ilmu politik, yang ditandai dengan upaya serius para ilmuan politik untuk mengkombinasikan kecermatan teoritik dan metodologi untuk melakukan penelitian empirik lintas nasional yang bisa menghasilkan generasi universal dan komparatif.
Konon komite perbandingan politik pada badan penelitian ilmu-ilmu sosial menggelar konfrensi dan publiksasi yang didesain untuk membawa pengetahuan dan pengalaman baru tentang pola dan problem pembangunan (politik). Hal ini menumbuhkan sebuah keyakinan bahwa pembangunan diwilayah dunia ketiga tidak bisa diselesaikan hanya dengan campuran kebijakan ekonomi, tetapi juga dengan lembaga-lembaga politik guna memobilisasi dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA), sebab variabel-variabel politik sama pentingnya dengan variabel ekonomi. Walaupun demikian para ilmuan ini sadar bahwa masih ada banyak problema yang harus dapat terselesaikan; problem pertama yang dihadapi adalah:

1.Bagaimana mendefinisikan pembangunan politik, karena sejauh karya-karya tentang politik yang bertebaran menunjukan bahwa definisi politik sangat fragmentasi, antara lain karena istilah "Pembangunan Politik" punya makna positif sehingga para ilmuan politik cenderung menerapkan pada hal-hal yang mereka anggap penting dan diperlukan. Bagi ilmuan politik, konsep pembangunan politik lebih memberi fungsi legitimasi di masyarakat ketimbang memberi fungsi analitis. Selain itu karena Pembangunan Politik (PP) merupakan aspek-aspek modernisasi, ia menjadi sebuah gagasan maupun proses yang luas dan kompleks. Pembangunan politik harus dimaknai dan diukur dengan banyak kriteria.

Lucian Pye, misalnya membuat sepuluh kriteria untuk mendefinisikan pembangunan politik, yakni;

1.Pembangunan Politik, sebagai prasyarat politik bagi pembangunan ekonomi
2.Pembangunan Politik, sebagai ciri khas kehidupan politik masyarakat industri
3.Pembangunan Politik, sebagai modernisasi politik
4.Pembangunan Politik, sebangai operasi negara bangsa
5.Pembangunan Politik, sebagai pembangunan administrasi dan hukum
6.Pembangunan Politik, sebagai mobilisasi dan partisippasi massa
7.Pembangunan politik, sebagai pembinaan demokrasi
8.Pembangunan Politik, sebagai stabilitas dan perubahan yang teratur
9.Pembangunan Politik , sebagai mobilisasi dan kekuasaan
10.Pembangunan Politik, sebagai satu segi proses perubahan sosial yang multidimensional.

Selain sepuluh kriteria tadi, Pye juga mengedepankan tiga dasar dan jantung pembangunan politik; peningkatan persamaan (equality) yang menyangkut masalah partisipasi, demokratisasi, keadilan hukum dan rekruitmen didasarkan hasil yang dicapai; kapasitas (capacity) yang berkaitan dengan prestasi aparat birokrasi, efektifitas dan efisiensi implementasi kebijakan publik, reformasi dan rasionalisasi administrasi serta diferensiasi dan spesialisasi yang behubungan dengan disentralisasi, spesialisasi fungsi, dan integrasi elite.

Mendirikan Persatuan Perjuangan

Jika kita mau terbuka dengan perjuangan pergerakan kita yang ada, maka saya mau mengatakan atau melansir (menyambung) sedikit dari perjuangannya sang legendaris-pejuang negara Republik Indonesia ini, yaitu (Tan Malaka), yang dengan segala pengorbanan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia. Walaupun ia dikecam akan dibunuh oleh tentara kolonial Belanda, namun pada akhirnya diasingkan dari Indonesia dan disekolahkan di negara kincir angin tersebut.


Pada tahun-tahun setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, Tan Malaka yang putra asli Minangkabau ini berkeliling Jawa untuk mengobarkan semangat revolusi. Ia meyakinkan massa rakyat tentang akan datangnya tentara Belanda dan sekutu ke tanah air. Tan Malaka berkeinginan untuk mengorganisir massa rakyat agar melakukan perlawanan kepada Belanda. Bulan November Tan Malaka ke Surabaya dan menyaksikan pertempuran yang sangat hebat, dan sangat heroik dari komponen rakyat Indonesia. Melihat semangat yang luar biasa dari rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia, Tan Malaka menjadi heran, kenapa justru pemerintah menjadi pengecut dan memilih jalan perundingan dibanding perlawanan dengan senjata. Pertempuran yang hebat membuat ia berpikir untuk mempersatukan gerakan-gerakan massa rakyat yang sudah ada secara rapi, kemudian ia menawarkan ide itu kepada tokoh-tokoh politik saat itu, sehingga pada tanggal 4-5 Januari 1946, di Purwokerto terjadi pertemuan yang kemudian mengkonsolidasi 138 organisasi baik sipil maupun militer, mereka kemudian berhimpun dalam organisasi Persatuan Perjuangan yang disingkat (PP). salah satu orang penting dalam pertemuan tersebut adalah panglima besar Jenderal Soedirman yang memberikan dukungan. Dalam waktu yang relatif singkat Persatuan Perjuangan (PP) dapat berkembang secara cepat.
(Fahsin M Fa’al – Negara dan Revolusi Sosial, 2005, hal.55. Ressist Book Yogyakarta)

Nah jika dilihat dari kutipan diatas, penulis mau sampaikan bahwa "gerakan kita yang ada sudah bagus" yang menjadi masalah atau problem sekarang ini adalah bagaimana tindakan dan seberapa pedulikah diri anda sebagai individu maupun makluk sosial menanggapi perjuangan pergerakan yang ada sekarang. Bagaimana cara anda akan mengembalikan kepercayaan kawn-kawan kita yang selama ini sangat pasif dengan gerakan yang ada, kemudian kita sudah seharusnya untuk bangga dan percaya diri bahwa kita telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi rakyat, yang selama ini masih tertindas oleh rezim pemerintah yang ada dan berjalan selama ini.

Kita tahu bahwa tidak mungkin sebuah negara merelakan negara jajahannya dengan gampang, namun masih ada jalan lain yang dapat kita tenpuh. Walupun demikiian kita juga harus sadar bahwa negara ini mempunyai cara lain untuk meredam teriakan-teriakan kita sekalipun itu adalah hak kita (M), contohnya yang terjadi dan dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat itu terhadap rakyatnya sendiri.

Satu hal tentang persatuan organisasi, kita telah melakukan, tinggal sekarang bagaimana dengan orang-orang yang bergerak dalam organisasi ini, apakah benar-benar bersih dan ingin berjuang untuk rakyat? Jika kelihatan bahwa masih belum bersih semuanya maka mari kita pangkas bersama, karena ada pepatah yang mengatakan "sekejam-kejamnya musuh, tetapi lebih kejam musuh dalam selimut". Karena sepandai apapun anda dapat menyamar, jika musuh dalam selimut itu masih berkrliaran maka percuma saja kita melakukan penyamaran itu. Satu hal lagi yang dianggap perlu kita lakukan dalam Persatuan Perjuangan di atas tadi adalah "kita harus yakinkan diri kita, bahwa kita harus Merdeka". Kemudian kita jangan hanya diam dan selalu berdoa, tetapi bagaimana kita mau bekerja menunjukan kepada publik bahwa hal ini, seperti in, yang terjadi disana rakyat kami ditindas, diintimidasi, kaum perempuan kami diperkosa dan diperlakukan tidak senonoh (tidak sesuai dengan dasar negara kita Pancasila, sila ke dua) setelah itu dilakukan hak-hak rakyat kami dirampas dengan paksa, rakyat di stigmatisasi sebagai pengacau keamanan (GPK) dan separatis, maka itu kami ingin "Merdeka". Sebab semua yang terjadi disana adalah permainan dari pemerintah sebagai penguasa negara ini, guna melegal formalkan cita-cita mereka untuk mengeruk kekayaan alam kami yang ada dan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan mereka (korupsi berantai dengan elit politik lokal) dari zaman orde baru hingga sekarang.

24 Februari 2009

Pemberdayaan Politk Dan Transformasi Politik




Lanjutan; MATERI PEMAHAMAN POLITIK





Pemberdayaan Politk Dan Transformasi Politik


Untuk memperlihatkan sebuah perubahan paradigmatik, para ilmuan politik dalam mengkaji perubahan (transformasi) politik. Pembangunan politik konon adalah percikan liberal para ilmuan politik barat yang dimaksudkan untuk merekayasa sebuah bangunan politik dan mengelola perubahan-perubahan politik di negara-negara ke dunia tiga. Pembangunan politik yang diterapkan pada tahun 1960-an terbukti telah gagal, karena tidak mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi sejak dekade 1970-an, yaitu munculnya otoritarianisme yang dipandegani oleh militer, yang malah diyakini sebagai Pilar Utama Pembangunan Ekonomi (pendalaman Kapitalisme). Kritik dan gerakan melawan pembangunan politik model barat dan perubahan politik di dunia ketiga berlangsung, untuk mengelola transformasi politik yang lebih humanistik yang berpusat pada masyarakat ketimbang negara.
Pemberdayaan politik bukan hanya sekedar konsep yang akan diperdebatkan dalam arena ilmu politik, tetapi sebagai sebuah “Gerakan” kritis dan emansipatoris yang berpusat pada civil society, untuk mewujudkan visi politik “Politik Transformatif”. Disini ada beberapa bagian untuk mencapai transformasi politik yang lebih humanistik, yang berpusat pada masyarakat ketimbang negara.

A.Gerakan Pemberdayaan

Pemberdayaan merupakan sebuah gerakan perlawanan pembangunan alternatif terhadap hegemoni developmentalisme (teori modernisasi). Dudley Seer (1969), memulai pernyataan kritis itu telah mengundang upaya serius untuk memikirkan kembali doktrin-doktrin pembangunan. Gerakan pemberdayaan ini dimaksudkan agar masyarakat benar-benar paham tentang; apa itu politik, bagaimana proses politik itu berjalan, apa yang menjadi hal-hal pokok dalam pembahasan politik itu sendri nantinya.
1.Politik adalah suatu sistem dimana pemerintah harus melewati mekanisme-mekanisme yang dibangun didalamnya.
2.Politik itu berjalan sesuai dengan perkembangan zaman yang ada dan mengatur tentang dalil-dalil yang ada dalam organisasi yang dinamakan negara.
3.Yang menjadi hal pokok bagi pembahasan politik adalah guna menjadikan negara yang demokrasi (persamaan hak dalam hukum).

Gerakan pemberdayaan yang mengkritisi tradisi positivisme dalam ilmu sosial dan hegemoni modernisasi (developmentalisme) dalam studi pembangunan. Teori modernisasi lahir sebagai peristiwa penting dunia setelah perang dunia ke II. Pertama, setelah munculnya Amerika Serikat (USA) sebagai negara adikuasa pada tahun 1950-an Amerika Serikat menjadi pemimpin dunia, sejak pelaksanaan Marshall plan yang diperlukan membangun kembali Eropa Barat setelah perang dunia ke II. Kedua, terjadi perluasan komunisme di seantero jagad yang di prakarsai Uni Soviet (US) dan memperluas pengaruhnya ke Eropa Timur dan Asia (Cina dan Korea). Hal ini mendorong Amerika Serikat untuk berusaha membendung penyuburan ideologi komunisme. Ketiga, lahirnya negara-negara baru di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang sebelumnya merupakan wilayah koloni negara-negara Eropa dan Amerika. Negara-negara tersebut mencari model-model pembangunan yang bisa digunakan untuk membangun ekonomi dan mencapai kemerdekaan politiknya. Hal ini membuat elite politik Amerika berusaha mendanai dan memfasilitasi para ilmuan untuk mempelajari permasalahan yang terjadi di negara-negara dunia ke tiga. Hal ini dilakukan bukan semata-mata (murni) untuk pembangunan diwilayah dunia ketiga, tetapi juga sebagai langkah awal untuk menghindari kemungkinan jatuhnya negara baru tersebut ke pangkuan Uni Soviet. Dengan demikian membuat karya kajian teori modernisasi merupakan industri yang tumbuh segar sampai pertengahan 1960-an.

Gerakan pemberdayaan ini diawali dari munculnya paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia (rakyat), yang konon diakui sebagai “Pembangunan Alternatif”. David Korten, misalnya, menyebut ciri-ciri pembangunan yang berpusat pada rakyat sebagai berikut, pertama, logika yang dominan dari paradigma ini adalah logika mengenai suatu ekologi manusia yang seimbang; kedua, sumber daya utama berupa sumber daya informasi dan prakarsa kreatif yang tidak ada habis-habisnya; dan ketiga, tujuan utamanya adalah pertumbuhan manusia yang didefinisikan sebagai perwujudan yang lebih tinggi dari potensi manusia. Paradigma ini memberi peran kepada individu bukan sebagai objek, melainkan sebagai "aktor yang menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya" (Korten,1988; 374). Konsekuensinya, pembangunan yang berpusat pada rakayat memberikan nilai yang sangat tinggi pada inisiatif dan sistem untuk mengorganisasikan diri sendiri melalui satuan-satuan organisasional yang berskala manusiawi dan komunitas-komunitas yang mandiri.model pembangunan ini mempunyai perbedaan fundamental didalam karakteristik dasar-dasar dibandingkan dengan strategi pertumbuhan atau strategi kebutuhan dasar yang selama ini mendominasi agenda pembangunan di dunia ke tiga, termasuk indonesia.
Moeljarto Tjokrowinoto, memberikan deskripsi mengenai ciri-ciri pembangunan yang berpusat pada rakyat; pertama, prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tahap demi tahap harus diletakan pada masyarakat itu sendiri. Maka dasar interprestasi pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah Asumsi bahwa manusia adalah sasaran pokok dan paling strategies. Maka pembangunan juga meliputi usaha terencana untuk meningkatkan kemampuan dan potensi manusia serta mengerahkan minat mereka untuk ikut serta dalam proses pembuatan keputusan dan juga pengambilan kebijakan dalam berbagai hal yang memiliki dampak bagi mereka dan mencoba untuk mempromosikan kekuatan manusia, bukan mengabadikan ketergantungan yang menciptakan hubungan antara birokrasi negara dengan masyarakat.

22 Februari 2009

Materi pemahaman politik di papua


Materi pemahaman politik di papua

"Orang bijak melihat ada hal-hal yang lebih berharga dari pada hidup, dan lebih mengutamakan hal-hal tersebut dari pada hidup itu sendiri”.
(J.J. Roseaou)
"Upaya pencarian makna di tengah kemajuan teknologi akan menjanjikan harapan (rising expectation) atau bahkan menimbulkan frustasi (rising frustation)”.
(Jhon Naisitt, Nana Naisbit, Dougllas Philips)

1. Politik

Pengertian politik itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala sosial yang selalu berubah, dan juga mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk individu yang bisa rasional dan juga bisa irasional.
Dalam kajian politik ini ada lima (5) pandangan mengenai politik yang perlu kita ketahui:

1.Politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewuudkan kepentingan bersama (aliran klasik) pandangan ini bersifat normatif
2.Politk adalah segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintah (pendekatan kelembagaan).
3.Politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat (pendekatan kekuasaan).
4.Politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebutuhan umum (pendekatan fungsionalisme)
5.Politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting (pendekatan konflik)

Manusia yang bijak dan cerdas setidaknya memiliki karakter sebagai seorang yang selalu berusaha mengoptimalkan nalar dam memiliki kematangan berpikir. Mulut bisa diam diam namun otak selalu berbicara, bahkan dalam mengejar seuatu yang memang penting tidaklah bijaksana untuk melibatkan emosi secara mendalam. Sebab tidak ada permasalahan tanpa penyelesaiannya.
(betrand Russel, The Conquest of happiness, london unwin bokks, 1975, hal180-181)

kehidupan manusia saat ini sudah pada sampai pada keadaan krisis multidimensional yaitu krisis intelektual, moral, spiritual, sebagai alur-alur politik yang seharusnya berjalan sesuai dengan jalurnya, sekarang telah dibengkokkan dan tidak lagi berjalan diatas rel politik yang sesungguhnya. Kalaupun ada usaha untuk menyelesaikannya, itu hanya berupa coba-coba dari fungsi intelektual yang ingin memetakan kapasitasnya untuk menyelesaikan “kehidupan buruk” bangsa ini. Dari hasil pemikiran diatas maka timbul suatu pertanyaan; apakah dengan material yang mencukupi itu, menjamin tercapainya kebahagiaan hidup? Maka jawaban dari saya adalah jika kebahagiaan dibangun diatas material dan itu adalah dari hasil tipu daya yang dilakukan oleh elite politik, baik daerah maupun nasional. Maka kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama, dia akan mudah runtuh dan hancur.



Asumsi kedua yang juga perlu diketahui dalam hal berpolitik adalah
1.Setiap masyarakat menghadapi kelangkaan dan keterbatasan sumber-sumber sehingga konflik selalu timbul dalam proses penentuan distribusi
2.Kelompok yang dominan (pemerintah) menentukan distribusi atau mengalokasikan melalui keputusan politik
3.Pemerintah mengalokasikan kebeberapa kelompokdan individu, tetapi mengurangi atau tidak mengalokasikan kepada individu atau kelompok yang lain. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan pemerintah tidak pernah menguntungkan semua pihak
4.Ada tekanan terus-menerus untuk mengalokasikan sumber-sumber yang langka
5.Tekanan-tekanan tersebut membuat kelompok atau individu yang diuntungkan berupaya keras untuk mempertahankan struktur yang menguntungkan tersebut
6.Semakin mampu pemerintah meyakinkan bahwa sistem politik yang ada memiliki legitimasi, maka semakin mantap penguasa dan kelompok yang diuntungkan dalam perjuangan mereka menghadapi golongan yng menghendaki perubahan
7.Banyak kebijakan ideal yang dimasukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat, ternyata hanya berupa pemecahan yang semu, sebab sulit untuk dilaksanakan dalam kenyataannya
8.Dalam politik tidak ada yang serba gratis, maksudnya setiap aksi yang dilakukan selalu ada ongkos yang harus di bayar atau resiko yang mesti ditanggung.

Dengan demikian maka sistem politik yang dijalankan oleh elit politik, baik itu di daerah atau lokal maupun nasional adalah politik adu domba yang telah diadopsi dari zaman kolonial Belanda

Berikut tokoh-tokoh politik yang pertama mempelopori politik

1.Plato; zaman yunani kuno (427-347 sm)dan Aristoteles (384-322 sm)
2.Dante; abad pertengahan (sebelum abad 15) dititik beratkan pada hubungan antara negara dengan gereja
3.Nichollo Machiaveli; permulaan zaman modern (1429-1527) perhatinnya pada negara dan pemerintah dalam bukunya the prince yang memisahkan politik dari etika
4.Thomas Hobbes; zaman modern pada abad 16,17 dan 18 (1588-1676), Jhon Locke (1632-1704), Montesqieu (1689-1755) dan J.J Rosseau (1712-1778) perhatian banyak orang yang ditujukan kepada buku dan lembaga-lembaga negara.
5.Charles E, Merriam dan George E. G. Catlin; abad 19 dan20


Baca selanjunya di Episode/ postingan berikutnya.....