17 Mei 2009

Kisah Anak Kampung


Rata PenuhKisah Anak Kampung

Hari yang cerah, sinar matahari yang tepat berada pada ketinggian maksimal, seakan membakar seisi bumi, dengan gontai seorang anak Kampung melangkah menembus teriknya sinar matahari siang itu untuk pulang kerumahnya, maklum rumahnya yang dituju berada agak jauh dari kampung atau lebih tepatnya dibilang (Rumah kebun) dengan sesekali tersembul senyum tipis dibibirnya, seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu yang indah dan tidak menghiraukan sinar matahari yang begitu menyengat kulit tubuhnya. Matahari baru menapaki puncaknya, tepat pukul 12.00 sehingga membuat bayangan dari segala makhluk hidup maupun mati yang ada di bumi seakan tidak ada. Nampak seorang lelaki tua, usianya sekitar 40-an berjalan sambil terbatuk-batuk menghampiri si anak kampung itu. Dilihat dari aura wajahnya yang agak lusuh dibasahi peluh yang berceceran bisa dipikirkan kalau orang tua ini telah berjalan menempuh jarak yang jauh. Dengan melangkah perlahan ia mendekati si anak kampung yang sedang beristirahat sebentar dibawah pohon durian yang rindang daunnya. Tanpa basi-basi sang orang tua itu duduk disamping anak kampung tadi, secara spontan anak kampung itu langsung menyapa sang bapak; Weingweinghengga gpohi…(selamat siang; Bhs; Iha Fakfak) dan di jawab dengan tenang oleh sang bapak, gpohi.. kadin…(baik anak) dengan secara tidak sengaja mereka saling menyapa inilah membuat mereka berdua terlibat dalam suatu percakapan pendek disana:
"Bapak tua" : Kadin ko tobonted nanggak
"Anak Kampung" : Skola naggak, youmbeuh gehibiyen nia…
"Bapak tua" : Mbe ko Toubo wahangge detnan?
"Anak Kampung" : Wiri, Hiriyet wiria geheibiyen…
"Bapak tua" : Mombe kadin koma nei ndondiya…?
"Anak Kampung" : Erick, nia….
Bapak tua" : Oweih…, injo, moda ohin ndatmo kampung weheinten modo… kadin…
"Anak Kampung" : Injo Koutmbuni, moda hahan riya weih….
”Bapak tua" : Injo… kadin

Begitulah sepenggal percakapan pendek yang terjadi disana, selang beberapa menit kemudian si anak kampung pun merasa telah cukup untuk istirahatnya dan dia harus melanjutkan perjalanannya, sebab perjalanan yang harus ia tempuh masih jauh, sebelum dia melangkahkan kakinya kembali dia merasa perutnya mulai keroncongan (lapar), sehingga iapun mulai berdiri dan bergegas untuk melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya, namun kali ini ia mempercepat langkahnya karena rasa yang ia rasakan semakin menjadi alias parah. Setibanya dirumah ia langsung meletakan buku, membuka pakaian seragamnya dan meletakan semua perlengkapan sekolahnya ditempat yang biasanya dia letakan, dan ia pun melangkah ke arah dapur (maklum rumah dikampung) tidak ada ruang makan dan juga meja makan, ternyata disana dia sudah ditunggu oleh seluruh anggota keluarganya, ayah, ibu dan saudara/i nya; seperti biasanya tamu masuk kerumah harus memberikan salam kepada orang yangberada dalam rumah, "Weingweinghengga gpohi…" Katanya, Gpohi… (disambut balas oleh orang rumah) eih… howoutridebe wei…. Youn mehein…, (kata ibunya) seraya memberikan tempat disamping ayahnya. Mbe koreit neweitob ge.. berdoa dorei.. mbe… dan doa makan hari itu dipimpin oleh ayahnya sebagai seorang kepala keluarga.
Setelah selesai dari makan siang mereka yang disediakan oleh orang tuanya, walaupun hanya sederhana dengan ala kadarnya, ia sangat gembira, karena perutnya yang tadi terasa keroncongan telah terisi. Setelah makan, seperti biasanya ia bersama ayahnya duduk-duduk sambil bercakap-cakap tentang pelajaran yang dia dapat dari gurunya disekolah, tentang pelajaran IPS dan bahasa Indonesia. Namun Ia lebih banyak mencoba untuk banyak bertanya tentang dunia pendidikan diluar pulaunya kepada ayahnya yang nota bene juga adalah seorang guru disekolah yang ia belajar. Walaupun ayahnya juga belum mengetahui secara detail tentang dunia pendidikan di luar pulaunya, namun berbekal banyak baca buku dan mendengar siaran radio tentang pendidikan yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) secara langsung dari frekuensi yang ada. Dengan berbekal inilah ayahnya mencoba untuk menerangkan secara gamblang kepada anaknya.
Dari sanalah timbul keinginan si anak kampung ini untuk bagaimana kalau suatu waktu dia pun bisa menikmati pendidikan diluar pulaunya itu, yang konon katanya peendidikannya lebih maju alias lebih memadai fasilitasnya. Yang mana saat itu ia berpikir kalau suatu waktu nanti ia harus sampai dipulau yang katanya namanya adalah JAWA, yang diceritakan oleh ayahnya kepadanya.
Sehingga tiba suatu saat, dimana si anak kampung itu menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Menenganh Umum (SMU) di kota asalnya. Ia pun mulai berpikir kembali bagaimana jika ia bisa pergi merantau atau sekolah ke tempat yang pernah dibicarakannya dengan ayahnya saat dia masih belajar di jenjang Sekolah Dasar.

Jika disimak dari sepenggal cerita pendek diatas secara seksama, maka kita akan dapatkan suatu hal yang sangat penting yaitu; bagaimana semangat seorang anak papua, yang berada jauh dari keramaian kota, berpikir untuk bisa menikmati pendidikan yang layak dan berusaha untuk menggapai hal itu walaupun kehidupan ekonomi keluarga yang tidak terlalu mendukung cita-citanya.
“Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan dan besok adalah misteri, sehingga tak ada salahnya kita mencobanya hari ini untuk menentukan hari esok yang lebih baik”
By.Mr.Tigma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar